Cangcimen bukan semacam superhero ! Cangcimen dalam bahasa metromini adalah kacang – kwaci – permen. Di suatu pagi yang cukup terik, masuklah seorang bapak-bapak dengan pakaian lusuh dan membawa tamborin sangat sederhana di Metromini 72 (Lebak Bulus – Blok M) yang saya tumpangi. Kemudian mulailah beliau menyanyi dengan penuh percaya diri:
“Cangcimen cangcimen , kacang kwaci permen
Bininye lagi nyayur, lakinye ngaduk semen..”
Liriknya yang lucu membuat saya jadi sangat memperhatikan pengamen satu ini, beliau pun melanjutkan lagunya
“Cangcimen cangcimen , kacang kwaci permen
Laki bini harus akur, jangan kayak kucing dapur”
Jadi apa tujuan saya memposting tentang “cangcimen” ini? Tidak ada tujuan yang penting-penting amat sih memang, saya sekedar ingin merekam segala sesuatu yang menurut saya sangat unik – khas kota Jakarta yang panas , gerah, penuh sesak, padat penduduk dan super macet ini.
Anggapan saya, 20 tahun lagi Jakarta jadi rapi, bersih, bagus, tanpa metromini yang batuk-batuk sambil ngerem di sembarang tempat, dan bapak yang nyanyi “cangcimen” sudah tidak ada lagi. Jika waktu itu terjadi, mudah-mudahan masih ada postingan blog ini yang mendokumentasikan sepotong wajah Jakarta di awal tahun 2010.
somehow, this post seems a bit mellow
because this part here ” 20 tahun lagi Jakarta jadi rapi, bersih, bagus, tanpa metromini yang batuk-batuk sambil ngerem di sembarang tempat, dan bapak yang nyanyi “cangcimen” sudah tidak ada lagi. ”
I’m not really sure about it haha , jangan2 sampe 20 tahun 30 tahun pun Jakarta masih kayak begini juga
Gw yakin si cangcimen singer bakal meledak kaya’ lagu tak gendong ato okelah galo begitu..hihi
hahaha
asal nggak abis itu tutup usia aja
i love cangcimen…
smoga cancimen bertambahhh seruyuuuuuuuuu.\!!!
i like to cangcimen 4 ever… \;0
haha oke deh..selamat bercangcimen